Pengertian Asas Hukum dan Contohnya

Pengertian Asas Hukum dan Contoh Asas Hukum

Hukum Sumber Hukum

Jika kita bertanya apakah itu asas hukum ?. Mengenai apa yang disebut dengan asas hukum atau asas pada umumnnya, sebaiknya kita ketahui dahulu apa yang dimaksud dengan asas.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dpat kita jumpai tiga Pengertian Asas sebagai berikut.
1. Dasar, alas, pedoman; misalnya, batu yang baik untuk alas rumah.
2. Suatu kebenaran yang menjadai pokok atau tumpuan berpikir (berpendapat dan sebagainya; misalnya: bertentangan dengan asas-asas hukum pidana; pada asasnya yang setuju dengan usul saudara.
3. Cita-cita yang menjadi dasar (perkumpulan negara, & sebagainya; misalnya, membicarakan asas dan tujuan (W.J.S. Purwadarminta, 1976).


Dari ketiga pengertian tersebut dapat kita lihat pengertian yang esensial dari asas itu ialah: merupakan dasar, pokok tempat menemukan kebenaran dan sebagai tumpukan berpikir, tentang apa yang dimaksud dengan asas hukum banyak pengertian yang dikemukakan oleh para ahli hukum, yang antara lain adalah sebagai berikut.

Menurut C.W. Paton, yang dikutip oleh Mulhadi, dalam bukunya A Textbook of Jurisprudence, 1969, mengatakan asas adalah: A principles is the broad reason, which lies at the base of rule of law dalam bahasa indonesia, kalimat itu berbunyi: asas adalah suatu alam pikiran yang dirumuskan secara luas dan mendasari adanya sesuatu norma hukum. Disingkatnya bahwa dalam unsur-unsur asas sebagai berikut.
1. Alam pikiran
2. Rumusan luas
3. Dasar bagi pembentukan norma hukum


Jadi Asas ialah suatu alam pikiran, yang melatarbelakangi pemberontakan norma hukum. Rumusan asas yang dihidangkan oleh Paton memberi kesan, seolah-olah tiap norma hukum dapat dikembalikam kepada susunan asas. Ternyata, kesan itu tidak beralasan.

Dalam praktek terdapat norma2 hukum, yang tidak dapat ditelusuri bagaimana bunyi asas yang mendasarinya. Salah satu contoh, norma hukum positif dalam bidang lalu lintas, yang menyuruh pemakai jalan umum yang mempergunakan bagian kiri dari jalan itu. Untuk norma hukum itu sulit dicarikan asasnya, tetapi kalau ia menjadi asas maka norma hukum itu sendirilah yang berfungsi sebagai asas. (Mahadi, 1986: 7)

Selanjutnya Paton mengatakan adanya norma hukum dapat dikembalikan kepada suatu asas tetapi adapula kalanya, semasyhur sarjana. Ia tak sanggup menyebutkan asas yang mendasari suatu norma hukum. (Mahadi, 1986: 7). Keadaan seperti itu menurut Mahadi, banyak terdapat pada bidang-bidang hukum yang netral, yaitu bidang-bidang hukum yang tidak ada kaitannya dengan agama atau kebudayaan. Sebaliknya dalam bidang-bidang hukum yang nonnetral (bidang-bidang hukum yang erat kaitannya dengan agama dan budaya), kita dapat bertemu dengan norma-norma hukum yang dapat dikembalikan kepada suatu asas.
Menurut Van Eikema Hommes asas hukum tdak boleh dianggap sebagai norma hukum yang konkret, tetapi perlu dipandang sebagai dasar umum atau petunjuk bagi hukum yang berlaku.

Pembentukan hukum praktis perlu berorientasi pada asas-asas hukum tersebut. Dengan kata lain bahwa asas hukum ialah dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif.

The Liang Gie berpendapat bahwa asas merupakan suatu dalil umum yang dinyatakan dalam istilah umum tanpa menyarankan cara khusus mengenai pelaksanaannya yang diterapkan pada serangkaian perbuatan untuk menjadi petunjuk yang tepat bagi perbuatan itu.

Menurut P. Scolten, Asas hukum adalah kecenderungan yang diisyaratkan oleh pandangan kesusilaan kita pada hukum yang merupakan sifat-sifat umum dengan segala keterbatasannya sebagai pembawaan umum, tetapi tdak boleh tidak harus ada. (Sudikno Mertokusumo, 1986: 32).

Dari beberapa pendapat para sarjana tersebut, kmudian dapat disimpulkan bahwa asas hukum baru merupakan cita-cita suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar atau tumpukan berpikir untuk menciptakan norma hukum.

Jadi Asas Hukum adalah suatu alam pikiran atau cita-cita ideal yang melatarbelakangi pembentukan norma hukum, yang konkret dan bersifat umum dan abstrak (khususnya dalam bidang-bidang hukum yang erat hubungannya dengan agama dan budaya). Agar supaya asas hukum berlaku dalam praktek maka isi asas hukum itu harus dibentuk yang lebih konkret. Seperti misalnya asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) yang telah dituangkan dalam bentuk konkret yang terdapat dalam ketentuan pasal 8 UU No. 14 Thn 1970 yaitu: "setiap orang yang ditangkap, ditahan, dituntut, dan/atau dihadapkan di depan pengadilan, wajib dianggap tidak brsalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesaahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap".

Contoh asas hukum, adalah asas legalitas (nullumdelictum mulla poena sine praevia lege poenali) sebagaimana yang tercantum pada pasa 1 angka (1) KUHP, yang berbunyi : "Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yg telah ada, sebelum perbuatan itu dilakukan." Asas tersebut merupakan perlindungan bagi kemerdekaan diri pribadi dari tindakan sewenang-wenang pihak penguasa, karena seorang tidak dapat dihukum kecuali undang-undang mengaturnya lebih dahulu.

Jika asas hukum telah dirumuskan secara konkret dalam bentuk peraturan norma hukum maka ia sudah dapat diterapkan secara langsung pada peristiwanya. Sedangkan asas hukum yg belum konkret dirumuskan dalam ketentuan hukum maka ia belum dapat dipergunakan secara langsung dalam peristiwanya.

Doktrin dan yurisprudensi menambahkan pada asas tadi kata-kata "dengan itikad baik", sehingga asas itu kemudian dalam prakteknya berbunyi "barangsiapa yang menguasai barang bergerak dengan iktikad baik dia dianggap pemilik". Dengan adanya syarat itikad baik maka pencuri tidak dilindungi oleh asas tadi, sebab pencuri menguasai arloji tadi tidak itikad baik. (Mahadi, 1986: 12-13)

Berdasarkan uraian dan contoh asas hukum diatas jelaslah bahwa asas hukum bukanlah kaidah hukum konkret, melainkan merupakan latar belakang peraturan yang konkret dan bersifat umum dan abstrak.

Buku Hukum yang digunakan dalam penulisan ini :

- Chainur Arrasjid, 2006. Dasar-dasar Ilmu Hukum. penerbit SINAR GRAFIKA: Jakarta.
Hukum
sumber hukum

Labels: