Teori Pemidanaan ~ Teori Gabungan

Teori Pemidanaan - Teori Gabungan 

Hukum Sumber Hukum


Golongan ketiga yang mendasar pemidanaan kepadasar premis bahwa pemidanaan yang mengakibatkan rasa perpaduan teori pembalasan dengan teori tujuan, yang disebut sebagai teori gabungan. Penganutnya antara lain adalah Binding. Dasar pemikiran teori gabungan adalah bahwa pemidanaan bukan saja untuk masa lau tetapi juga untuk masa yang akan datang, karenanya pemidanaan harus dapat memberi kepuasan bagi hakim, penjahat itu sendiri maupun kepada masyarakt.

Menurut Hebert L.Packer terdapat tiga macam teori pemidanaan yaitu :
1. Teori Retribution, yaitu terdiri dari dua versi. Versi pertama yaitu revenge theory yaitu teori balas dendam. Pemidanaan dilakukan sebagai pembalasan semata. Sedangkan yang kedua expiation theory di mana hanya dengan pidana penderitaan seorang pelaku akan kejahatan dapat menebus dosanya, teori ini sering disebut dengan teori insyaf.
2. Teori Utilitarian Prevention yang terdiri dari dua macam yaitu utilitarian prevention detterrence dan special detterrence or intimidation.
3. Bahavioral Prevention yang terdiri dari dua macam : a) Behavioral prevention: incapacition; b) Behavioral Preventon: Rehabilitation.


Pendekatan retributif meletakkan titik berat gagasannya tentang hak untuk menjatuhkan pidana yang keras dengan alasan karena seseorang bertanggung jawab atas perbuatannya, sudah seharusnya ia menerima hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Revenge theory atau bisa juga disebut teori balas dendam, meletakkan pembenaran pemidanaan kepada kedalaman pengalaman manusia masa lampau setidaknya kembali pada asas lex talionis, mata dibalas mata, jiwa dengan jiwa. Expiation theory atau teori taubat yang berarti bahwa hanya melalui pidana seseorang pelaku kejahatan akan menebus dosanya.

Deterrence (pencegahan) mempunyai dasar premis bahwa pemidanaan yang mengakibatkan rasa sakit adalah tidak dibenarkan kecuali hal itu dapat memperlihatkan bahwa dengan diberikannya pidana akan memperoleh hasil lebih baik dibandingkan jika tidak diberikan pidana. Menurut teori intimidasi jika seorang menjalani pidana maka dia tidak dapat melakukan kejahatan, oleh karena itu menurut pandangan ini hukuman berfungsi untuk mengurangi atau meniadakan tindakan jahat yang dapat dilakukan oleh orang tersebut.

Dasar pemidanaan menurut teori inkapasitasi adalah para pelaku kejahatan dibuat untuk tidak mampu melakukan kejahatan dibuat untuk tidak mampu melakukan kejahatan lagi baik untuk sementara waktu atau selamanya. Sedangkan menurut teori rehabilitasi tujuan pemidanaan adalah untuk merubah kepribadian atau mental si pelanggar hukum, sehingga kepribadiannya sesuai dengan hukum.

Teori terakhir yang merupakan gabungan dari teori-teori di atas adalah Teori Pembinaan. Teori pembinaan ini lebih mengutamakan perhatiannya kepada si pelaku tindak pidana, bukan pada tindak pidana yang telah dilakukan. Pidana ini di dasarkan pada berat dan ringannya tindak pidana yang dilakukan, melainkan harus di dasarkan pada keperluan yang dibutuhkan untuk dapat memperbaiki si pelaku tindak pidana.

Menurut teori ini, tujuan pidana untuk merubah tingkah laku dan kepribadian si pelaku tindak pidana agar ia meninggalkan kebiasaan jelek yang bertentangan dengan norma yang berlaku. Dengan kata lain, adalah untuk memperbaiki pelaku tindak pidan. Teori inilah yang dianut oleh Rancangan KUHP.

Buku hukum pidana yang digunakan dalam penulisan ini :

- Erdianto Effendi, 2011. HUKUM PIDANA INDONESIA Suatu Pengantar. PT Refika Aditama: Bandung.
Teori Pemidanaan
Gambar Teori Pemidanaan

Labels: