Sumber Hukum Islam Tabaiyah : Qias

Sumber Hukum Islam Tabaiyah : Qias

Hukum Sumber Hukum

Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai Qias sebagai sumber hukum islam Tabaiyah.

Sumber hukum islam Tabahiyah adalah kebalikan dari sumber hukum islam Ashliyah. Yang dimaksud dengan Sumber Hukum Islam Tabaiyah adalah sumber hukum islam yang penggunaannya masih bergantung pada sumber hukum islam yang lain. Sumber hukum islam ini jumlahnya banyak, tetapi yang umum digunakan/ banyak digunakan terbatas pada Ijma, Qaul (pendapat) Sahabat Qias, Ishtihsan, Istihslah dan Urf disamping Al-Quran dan Hadis.

Salah satu dari sumber hukum islam Tabaiyah adalah qias. Pengertian Qias ialah meperbandingkan atau mempersamakan atau menerapkan hukum dari suatu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya terhadap suatu perkara lain yang belum ada ketentuan hukumnya oleh karena kedua perkara yang bersangkutan mempunyai unsur-unsur kesamaan.

Sesuai dengan pengertian tersebut diatas, maka untuk menentukan sesuatu perkara dengan jalan qias haruslah dipenuhi empat rukunnya, yaitu :
1. Harus ada Ashal atau pokok, yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya;
2. Harus ada Furu' atau cabang, yaitu perkara yang akan ditentukan/ diberi ketentuan hukum;
3. Harus ada Illat, yaitu hal-hal menghubungkan kedua perkara itu yaitu ashal dan furu';
4. Harus ada hukumnya, yaitu hukum yang diterapkan pada furu' yang diambil dari ashal.


Berdasarkan sumber hukum islam tabiyah yakni Qias, maka mewakafkan harta-benda tidak boleh melebihi 1/3 bagian dari harta peninggalan. Juga berdasarkan sumber hukum islam tabaiyah qias kita bisa menetapkan hukum meminum minuman keras seperti alkohol, bir, brandy dan sebagainya dengan menerapkan hukum yang berlaku dengan minuman arak (khamar) yang disebut dalam Al-quran, yaitu hukumnya haram karena meminum-minuman kerasa tersebut adalah dapat memabukkan sehingga dapat pula membahayakan keselamatan baik diri sendiri maupun orang lain.

Beberapa ahli hukum islam membagi sumber hukum islam tabaiyyah qias dalam empat bentuk (Mukhtar Yahya dan Fatchurrahman, 1986: 98-99), yaitu :
1. Qias Aula, yaitu suatu qias yang illat-nya mewajibkan adanya hukum dan disamakan (mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada tempat menyamakannya (mulhaq-bih).
2. Qias Musawi, yaitu suatu qias yang illatnya mewajibkan adanya hukum dan illat hukum yang terdapat pada mulhaq sama dengan illat hukum pada mulha-bih.
3. Qias Dalalah, yaitu suatu qias dimana illatnya yang ada pada mulhaq menunjukkan hukum, tetapi tidak diwajibkan hukum padanya.
4. Qias Sibhi, yaitu suatu qias dimana mulhaqnya dapat diqiaskan kepada dua mulhaq-bih, tetapi ia diqiaskan dengan mulhaq-bih yang mengandung banyak persamaan dengan mulhaq.


Sekedar perlu diingatkan, bahwa hukum sebagai salah satu syarat yang harus ada pada penerapan metode qias dimaksudkan adalah lima kategori hukum yang digunakan untuk menilai perbuatan seseorang yaitu : wajib, sunnah/ Mandub, Mubah/ jiaz, Makruh dan Haram. Dalam sejarah perkembangan hukum islam, yang paling banyak mempergunakan qias dalam metode penerapan hukumnya adalah Imam Abu Hanifah (80-150 H), yang sekaligus adalah pelopor dari Qias ini.

Demikianlah pembahasan mengenai Qias sebagai sumber hukum islam Tabaiyah, semoga tulisan saya mengenai Qias sebagai sumber hukum islam tabaiyah dapat bermanfaat.

Sumber: Buku dalam penulisan Qias sebagai sumber hukum islam tabaiyah :

- M.Arifin Hamid, (2011). HUKUM ISlAM Perspektif Keindonesiaan (Sebuah Pengantar dalam Memahami Realitasnya di Indonesia). PT.UMITOHA GRAFIKA : Makassar.
Sumber Hukum Islam Tabaiyah
Gambar Sumber Hukum Islam Tabaiyah

Labels: