Sumber Hukum Islam Tabaiyah : Istishlah atau Muslahat-mursalah

Sumber Hukum Islam Tabaiyah - Istishlah atau Muslahat-mursalah

Hukum Sumber Hukum

Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai istishlah sebagai sumber hukum islam tabaiyah.

Sumber Hukum Islam Tabahiyah adalah kebalikan dari sumber hukum islam Ashliyah. Yang dimaksud dengan sumber hukum islam Tabaiyah adalah sumber hukum islam yang penggunaannya masih bergantung pada sumber hukum islam yang lain. Sumber hukum islam ini jumlahnya banyak, tetapi yang umum digunakan/ banyak digunakan terbatas pada Ijma, Qaul (pendapat) Sahabat Qias, Ishtihsan, Istihslah dan Urf disamping Al-Quran dan Hadis.

Salah satu dari sumber hukum islam tabaiyah adalah Istishlah atau Muslahat-mursalah. Istishlah atau muslahat-mursalah adalah menetapkan hukum dari sesuatu perkara berdasar pada adanya kepentingan umum atau kemuslahatan umat.

Penetapan hukum islam dengan cara istishlah hanya dapat dilakukan terhadap perkara-perkara yang tidak dengan tegas diperintahkan atau dilarang dalam Al-quran dan atau Hadis/Sunnah. Penetapan hukum islam dengan cara Istishlah adalah dimaksudkan untuk merealisasikan kemaslahatan umat manusia, yang berbeda latar belakang budaya dan masanya. Berpegang pada sumber hukum islam istishlah sebagai sumber hukum islam, sebenarnya berpegang pada hukum islam yang kokoh dan akurat karena terdapatnya dali-dalil dari nash yang qath'i.

Jumhur (kebanyakan) Fuqaha (ahli fiqh) sepakat bahwa maslahat merupakan asas yang penting untuk menetapakan hukum fiqhiyah, kecuali jumhur Hanafiah dan Syafii'iyah yang mensyaratkan bahwa maslahat tersebut harus termasuk dalam kategori sumber hukum islam qias, yang ditemukan ashal tertentu yang di dalamnya terdapat pula illat yang tetap (mundhabith) yang membuat pertalian hukum lain dengannya menjadi tempat diduga kuatnya terwujud muslahat (Sulaiman Abdullah, 1995: 154). Meskipun demikian, keempat mazhab ini (Hanafi, Malikiah, Syafi'iyah dan Hambali) menggunakan sumber hukum islam MUslahat-mursalah. Hanya saja Hanafiyah dan Syafi'iyah menggolongkannya kedalam sumber hukum islam qias dan mempersulit penggunaannya demi kepastian hukum dan kehati-hatian dalam pembinaan hukum islam.

Untuk menghindari Maslahat dengan mafsadah dan hawa nafsu, maka para ulama yang menjadikan muslahat sebagai sumber hukum islam menetapakan beberapa persyaratan, yaitu :
1. Maslahat tersebut haruslah maslahat yang haqiqi (sejati) dan bukan hanya didasarkan wahm (perkiraan) saja. 
2. Kemaslahatan itu adalah kemaslahatan umum dan menyeluruh dan bukan kemaslahatan khusus untuk kelompok atau perseorangan.
3. Kemaslahatan itu tidak boleh bertentangan dengan dasar-dasar yang telah digariskan oleh nash (Al-quran dan Hadis) dan ijma.
4. Kemaslahatan itu bukan maslahat mulgah, seperti fatwa Mufti kepada seorang Raja yang membatalkan Puasa Ramadhan dengan sengaja, yang kemudian mengkafaratnya hanya dengan berpuasa dua bulan berturut-turut. kebanyakan ulama (ahli hukum islam) berpendapat bahwa fatwa tersebut didasarkan atas maslahat mulgah, karena nash tentang itu tidak membedakan antara raja dengan rakyat biasa.


Beberapa contoh hukum islam yang didasarkan atas mursalah, dapat dikemukakan di bawah ini :
1. Tindakan khalifah Umar bin Khatab yang menetapkan, bahwa talak tiga yang diucapkan sekaligus adalah benar-benar jatuh talak tiga. Hal ini beliau lakukan untuk melindungi kepentingan umum (kaum wanita).
2. Mewajibkan pajak kepada rakyat, apabila nash Negara tidak mencukupi untuk biaya pengurusan kepentingan umum.
3. Usaha Ustman bin Affan Menyatukan kaum muslimin untuk mempergunakan satu mushaf, menyiarkannya dan kemudian membakar lembaran-lembaran yang lain.


Dari uraian tentang maslahat seperti diatas, dapat dikatakan bahwa apabila semua syarat maslahat mursalah terpenuhi, maka semua ketentuan hukum yang ditetapkan atas dasar maslahat mursalah merupakan penetapan hukum islam. Demikianlah pembahasan mengenai istishlah sebagai sumber hukum islam tabaiyah, semoga tulisan saya mengenai istishlah sebagai sumber hukum islam dapat bermanfaat.

Sumber: Buku dalam penulisan istishlah sebagai sumber hukum islam tabaiyah :

- M.Arifin Hamid, (2011). HUKUM ISlAM Perspektif Keindonesiaan (Sebuah Pengantar dalam Memahami Realitasnya di Indonesia). PT.UMITOHA GRAFIKA : Makassar.
Gambar Sumber HUkum Islam

Labels: