Sumber Hukum islam Tabaiyah : istihsan

Sumber Hukum Islam Tabaiyah : istihsan

Hukum Sumber Hukum

Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai istihsan sebagai sumber hukum islam Tabaiyah.

Sumber hukum islam Tabahiyah adalah kebalikan dari sumber hukum islam Ashliyah. Pengertian sumber hukum islam Tabaiyah adalah sumber hukum islam yang penggunaannya masih bergantung pada sumber hukum islam yang lain. Sumber hukum islam ini jumlahnya banyak, tetapi yang umum digunakan/ banyak digunakan terbatas pada Ijma, Qaul (pendapat) Sahabat Qias, Ishtihsan, Istihslah dan Urf disamping Al-Quran dan Hadis.

Salah satu dari Sumber Hukum Islam Tabaiyah adalah  Istihsan. Pengertian Istihsan adalah memindahkan atau mengecualikan hukum dari suatu peristiwa lain yang sejenis dan memberikan kepadanya hukum yang lain karena ada alasan yang kuat bagi pengecualian itu. Dalam pengertian yang maknanya sama, menurut Abul Hasan Al-Kharakhy ulama fiqh dari golongan Hanafiah mendefinisikan bahwa Pengertian Istihsan adalah berpindahnya seorang mujtahid dalam menetapkan hukum suatu masalah dari suatu hukum kepada hukum lain yang berlawanan dengannya, karena adanya dalil yang mendorong untuk meninggalkan hukumnya yang pertama.

Dari pengertian ini, apabia seorang ahli hukum islam telah mengetahui dengan jelas suatu suatu masalah yang tidak ada hukumnya dalam nash dan ijma mempunyai kesamaan yang jelas dengan Ashal tertentu maka harus menyamakan dan menetapkan hukumnya dengan hukum tertentu. Apabila tidak mempunyai kesamaan yang jelas dengan ashal lainnya, maka tidak boleh disamakn hukumnya dan qias mendorong untuk menetapkan hukum lain, yang bertentangan dengan hukum yang pertama. Disini kemudian ahli hukum islam berpidah dari qias yang jelas (jali) kepada qias yang tidak jelas (khafi), karena kuatnya alasan yang ada padanya. Dengan kata lain, terdapat dua qias, yang satunya jali tetapi lemah pengaruhnya dan yang lainnya khofi kuat pengaruhnya.

Dari pengertian tersebut diatas, maka dapat diketahui bahwa sumber hukum islam tabaiyah istihsan itu adalah kebalikan dari sumber hukum islam tabaiyah qias yang mempersamakan hukumd dari suatu peristiwa dengan hukum peristiwa lain yang sejenis. Atas dasar alasan pengecualian itu, maka Istihsan ini di bedakan dalam dua macam, yaitu sumber hukum islam tabaiyah Istihsan Qias dan sumber hukum islam tabaiyah Istihsan Darurat.

Sumber hukum islam Tabaiyah Istihsan qias, mengecualikan/ memindahkan hukum dari sesuatu perkara yang telah ditetapkan dengan jalan qias kepada hukum peristiwa lain yang juga ditetapkan dengan jalan qias pula oleh karena adanya alasan yang kuat untuk itu. Contoh dari sumber hukum islam tabaiyah istihsan qias misalnya, seseoarang yang berwakaf telah mewaqafkan pertaniannya, maka menurut sumber hukum islam Istihsan, hak-hak yang bersangkutan dengan tanah itu, seperti hak mengairi, membuat saluran air dan lorong diatas tersebut sudah tercakup dalam pengertian waqaf secara langsung, sekalipun hak-hak itu tidak disebutkan secara rinci pada saat waqaf diucapkan. Sedangkan menurut sumber hukum islam Qias, hak-hak itu tercakup didalamnya atas ketetapan nash sebgaimana dalam perikatan jual beli.

Segi sumber hukum islam Istihsan dari contoh di atas adalah bahwa tujuan berwakaf untuk memberikan manfaat suatu barang yang diwaqafkan kepada penerima waqaf. Pemanfaatan tanah waqaf tidak akan tercapai apabila hak-hak yang berkaitan dengan tanah tersebut tidak mengikut hukum tanahnya. Oleh karena itu, sekalipun hak-hak itu tidak disebutkan secara terperinci pada saat waqaf diikrarkan, tetap dianggap sudah mengikuti pada ketentuan waqaf sebagaimana berlaku dalam perjanjian sewa menyewa tanah.

Sumber hukum islam tabaiyah Istihsan Darurat, menetapkan hukum dari sesuatu perkara yang telah ditetapkan dengan jalan qias kepada hukum perkara lain oleh karena adanya kemungkinan yang mengaharuskan diadakannya pengecualian itu. Contoh dari sumber hukum islam istihsan darurat ini adalah : orang yang berada di bawah perwalian karena pemboros tidak sah menjalankan transaksi atas harta miliknya untuk amal sosial secara sukarela. Atas dasar istihsan, dapat dikecualikan apabila ia mewaqafkan harta miliknya atas namanya sendiri sewaktu ia masih hidup.

Segi sumber hukum islam istihsan dari contoh di atas adalah karena tindakan mewaqafkan harta milik atas namanya sendiri, mengadukan tujuan untuk memelihara harta miliknya dari kehancuran atau kehilangan sesuai dengan maksud diadakannya perwalian.

Ulama atau ahli hukum islam yang menggunakan istihsan sebagai sumber hukum islam kebanyakan ulama dari kalangan Hanafiah dan dari kalangan Malikiah. Tetapi dari kalangan Malikiah tidak menamakannya istihsan, tetapi menyebutnya Muslahat-mursalah. Meskipun demikian, ulama Hanafiah dan Malikiah baru mempergunakan sumber hukum islam istihsan, apabila penerapan hukum berdasarkan qias akan mengakibatkan kejanggalan dan ketidakadilan.

Demikianlah pembahasan mengenai istihsan sebagai sumber hukum islam tabaiyah, semoga tulisan saya mengenai istihsan sebagai sumber hukum islam dapat bermanfaat.

Sumber: Buku dalam penulisan istihsan sebagai sumber hukum islam :

- M.Arifin Hamid, (2011). HUKUM ISlAM Perspektif Keindonesiaan (Sebuah Pengantar dalam Memahami Realitasnya di Indonesia). PT.UMITOHA GRAFIKA : Makassar.
Sumber Hukum Islam Tabaiyah
Gambar Sumber Hukum Islam Tabaiyah

Labels: