Sumber Hukum Islam Tabaiyah : Ijma

Sumber Hukum Islam Tabaiyah : Ijma

Hukum Sumber Hukum

Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai ijma sebagai salah satu dari sumber hukum islam tabaiyah.

Sumber Hukum Islam Tabaiyah adalah kebalikan dari sumber hukum islam Ashliyah. Yang dimaksud dengan sumber hukum islam Tabaiyah adalah sumber hukum islam yang penggunaannya masih bergantung pada sumber hukum islam yang lain. Sumber hukum islam ini jumlahnya banyak, tetapi yang umum digunakan/ banyak digunakan terbatas pada Ijma, Qaul (pendapat) Sahabat Qias, Ishtihsan, Istihslah dan Urf disamping Al-Quran dan Hadis.

Pengertian Ijma adalah persesuaian paham atau pendapat di antara para ulama mujtahidin pada suatu masa tertentu setelah wafatnya nabi Muhammad SAW, untuk menentukan hukum suatu masalah yang belum ada ketentuan hukum islam nya. Sesuai dengan pengertian tersebut, maka untuk menentukan hukum islam nya secara ijma menurut Mukhtar Yahya dan Fatchurrahman (198 : 59-60) haruslah memenuhi empat rukun, yaitu sebagai berikut :
1. Pada saat terjadinya peristiwa tersebut yang belum ada ketentuan hukum islam nya, berkumpul (bermusyawarah) beberapa orang ulama (Mujtahid);
2. Seluruh ulama tersebut menyetujui hukum islam syara' yang telah mereka musyawarahkan;
3. Persesuaian paham atau pendapat para ulama tersebut harus diutarakan masing-masing ulama tersebut secara tegas dan terhadap peristiwa tersebut, baik melalui perkataan maupun perbuatan; dan
4. Persesuaian paham atau pendapat tersebut merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh ulama.


Oleh karena itu, untuk melakukan Ijma diperlukan beberapa syarat tertentu, antara lain : harus mengetahui secara mendalam tentang isi Al-Quran dan Hadis, Tarikh, mengetahui ilmu sosiologi dan sebagainya serta bermoral tinggi dan dapat berlaku adil.Sehubungan dengan itu, maka menurut Imam Syafi'i dalam bukunya Arrisalah ada beberapa tingkatan mujtahid, yaitu :
1. Mujhtahid Mutlak, yakni para imam mazhab yang kebebasannya melakukan ijtihad dan ijma, hampir tidak terbatas;
2. Mujhtahid Mazhab, yaitu mujtahid yang kebebasan ijtihadnya terbatas pada mazhabnya yakni hanya mengenai hal-hal yang belum ada dalam mazhabnya;
3. Mujhtahid Fatwa, yaitu ulama penganut sesuatu mazhab dalam menghadapi berbagai pendapat ulama yang berbeda-beda mengenai satu materi dalam mazhabnya, maka dia berwenang menyatakan pilihannya.


Dalam sejarah perkembangan hukum islam, yang dianggap pelopor dari Ijma ini ialah Imam Syafi'i (150-204H) yang mempunyai pandangan yang luas terhadap ilmu Ushul Fiqih sebagaimana dapat diketahui dari bukunya tersebut diatas tadi. Setelah Ijma dikembangkan oleh beliau, maka kedudukan sumber hukum islam ini lebih kuat daripada Qias, oleh karena itu apabila ada suatu Ijma mengenai suatu perkara tertentu yang bertentangan dengan Qias, maka Ijma-lah yang dipakai.

Untuk mengetahui kuat-tidaknya ijma sebagai sumber hukum islam, maka ijma itu dibedakan atas dua macam, yaitu :
1. Ijma Ba'yani atau Ijma Qauly, yaitu Ijma yang berdasarkan pendapat para ulama mujtahid yang mengeluarkan pendapatnya masing-masing yang kesemuanya sama untuk menentukan hukum sesuatu masalah. Jadi ijma semacam ini dipernyatakan secara tegas dalam suatu kebulatan pendapat yang dicapai melalui musyawarah;
2. Ijma Syukuti, yaitu Ijma yang berdasarkan pendapat seseorang atau beberapa orang ulama Mujtahid, tidak dibantah atau tidak ada reaksi oleh ulama yang lain yang mengetahui atau mendengarnya. Jadi dapat dikatakan, bahwa ijma ini dicapai secara diam-diam.


Pengertian Ijma Bayani menurut kebanyakan ahli hukum islam (jumhur ulama) adalah ijma haqiqi dan menjadi sumber syariat hukum islam, sedangkan ijma syukuti adalah ijma I'tibari (relatif) dan karenanya ijma I'tibari ini kedudukannya masih diperselisihkan. Akan tetapi menurut ulama Hanafiah, melakukan ijtihad tersebut telah menguraikan hasil ijtihadnya kepada ulama atau mujtahid lain dan telah cukup waktu untuk membahasnya, sedangkan mujhtahid lain tersebut tidak membantah atau menentangnya.

Ijma ditinjau dari segi qath'I (pasti) dan zhanni (dugaan) dibagi atas dua macam, yaitu :
1. Ijma qath'iyud dalalah terhadap hukumnya, artinya hukum yang dihasilkan dari ijma ini adalah qath'i sehingga tidak ada jalan lain untuk berbeda dalam menetapkan hukum islam peristiwa itu dengan hasil ijma, dan tidak ada lagi jalan lain untuk berijtihad terhadap peristiwa yang telah ditetapkan oleh ijma;
2. Ijma zhanniud dalalah terhadap hukumnya, artinya hukum yang dihasilkan dari ijma adalah zhanni (dugaan), sehingga peristiwa yang telah ditetapkan hukum islam nya berdasar ijma masih dapat dilakukan ijtihad lagi.


Sebagai salah satu contoh penetapan hukum mengenai suatu masalah dengan cara ijma adalah : bagian kakek dari harta peninggalan cucu yang lebih dulu meninggal daripada kakek, adalah 1/6 dari harta peninggalan jika cucu tersebut tidak meninggalkan ayah, artinya ayahnya lebih dahuhu meninggal. Demikianlah pembahasan mengenai ijma sebagai sumber hukum islam Tabaiyah, semoga tulisan saya mengenai ijma sebagai sumber hukum islam dapat bermanfaaat.

Sumber: Buku dalam penulisan ijma sebagai sumber hukum islam tabaiyah :

- M.Arifin Hamid, (2011). HUKUM ISlAM Perspektif Keindonesiaan (Sebuah Pengantar dalam Memahami Realitasnya di Indonesia). PT.UMITOHA GRAFIKA : Makassar.
Sumber Hukum Islam
Gambar Sumber Hukum Islam

Labels: