Sumber Hukum Islam Ashliyah : Al-Quran

Sumber Hukum Islam Ashliyah : Al-Quran

Hukum Sumber Hukum

Pada kesempatan ini saya akan membahas mengenai Al-quran sebagai salah satu dari sumber hukum islam.

Yang dimaksud dengan Sumber Hukum Islam Ashliyah ialah sumber hukum islam yang penggunaannya tidak bergantung pada sumber hukum yang lainnya. Sumber hukum islam Ashliyah adalah yang paling utama diantara sumber-sumber hukum islam lainnya, oleh karena keduanya adalah sumber wahyu.

Al-Quran adalah kumpulan wahyu ilahi yang disampaikan kepada nab Muhammad SAW, dengan perantara malaikat Jibril untuk mengatur hidup dan kehidupan umat islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya.Al-Quran sebagai wahyu dari Allah pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad pada malam "lailatul Qadr", yaitu suatu malam ketujuh belas bulan ramadhan. Malam tujuh belas ramadhan ini yang dikenal dengan dengan "Nuzulul Qur'an" oleh pemerintah RI dijadikan hari raya nasioanal yang diperingati tiap tahun di Indonesia.

Pada malam tujuh belas ramadhan tahun ke 41 dari kelahiran nabi muhammad tatkala beliau bersemedi di gua Hira, turunlah ayat pertama seperti tercantum dalam Surat/ Surah Al Alaq, yang artinya : "Bacalah ya Muhammad dengan nama Tuhanmu yang maha Budiman yang telah mengajar manusia dengan qalam, telah mengajar manusia tentang apa-apa yang telah diketahuinya."Dari ayat yang pertama turun ditutup dengan turunnya ayat yang terakhir dalam surat Al Maidah ayat 3, pada ketika nabi Muhammad mengerjakan ibadah haji yang terakhir pada tanggal 9 zulhijjah tahun ke sepuluh dipadang Arafah, yang artinya, "pada hari ini saya telah sempurnakan agamamu dan saya cukupkan nikmatku kepadamu serta saya relakan Islam sebagai agamamu".

Dari ayat pertama sampai kepada ayat terakhir tidaklah diturunkan sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan, misalnya apabila ada kejadian-kejadian baru yang perlu segera dipecahkan oleh nabi atau ada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada nabi yang perlu segera mendapat jawaban. Ayat-ayat Al-Quran turun dalam kurun waktu 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari yang dibagi atas dua periode, yaitu periode Mekah/Makyah dan periode Madinah/ Madaniyah.

Ayat-ayat yang turun pada periode Makkiyah pada umumnya mengandung dasar-dasar agama islam, seperti Aqidah, keimanan atau pembinaan mental pribadi dan moral sosial yang dapat dijadikan asas-asas hukum (Rechtsbeginselen), sedangkan ayat-ayat yang turun pada periode Madaniyah pada umumnya mengandung dasar-dasar kepemimpinan, peraturan keluarga, harta benda, perniagaan, kejahatan pelanggaran, peradilan dan sebagainya yang dapat dikategorikan sebagai kaidah hukum  (Rechtsnormen). Selain itu, ayat-ayat Makiyah jumlahnya kurang lebih 2/3 ayat Al-Quran dan ayat-ayatnya pada umumnya pendek-pendek serta ditujukan kepada khalayak ramai atau kepada seluruh umat manusia dengan bunyinya "Ya Ayuhannasu", sedangkan ayat-ayat madaniah jumlahnya kurang lebih 1/3 ayat Al-Quran dan ayat-ayatnya umumnya panjang-panjang serta ditujukan kepada mereka yang telah beriman, sesuai dengan bunyinya "Ya ayyuhalladzina amanu".

Keseluruhan ayat yang telah diturunkan selama dua periode tersebut, pada mulanya belum dikumpulkan, belum disusun secara lengkap dan tetap, melainkan masih bercerai-berai dalam bentuk catatan yang ditulis dikertas, didaun lontar dan diikuti unta dan disimpan oleh beberapa orang sahabat.Al-Quran terdiri dari 30 juz, 114 surah dengan jumlah ayat yang seluruhnya 6342 ayat (Hanafi, 1984 :55), atau 6666 ayat (Rasyidi, 1980 : 21). Sebagai pegangan kita ambil jumlah 6236 ayat dan daripada hanyalah terdapat 228 Ayatul Ahkam/ ayat-ayat hukum denagan rincian sebagai berikut :
a. 70 ayat mengenai hidup kekeluargaan, perceraian, waris-mewaris dan sebagainya;
b. 70 ayat mengenai oerdagangan, perekonomian seperti jual-beli dan sebagainya;
c. 30 ayat mengenai soal-soal kriminal;
d. 25 ayat mengenai hubungan antara orang Islam dan bukan orang Islam;
e. 10 ayat mengenai hubungan antara orang kaya dan orang miskin;
f. 13 ayat mengenai hukum acara;
g. 10 ayat mengenai soal-soal kenegaraan.


Menurut Abdul Wahab Khallaf (1993 : 40), hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Quran ada tiga macam, yaitu, pertama, hukum islam I'tiqadiyah, yakni tingkah laku yang berhubungan dengan orang mukallaf untuk mempercayai Allah, Malaikat-malaikatnya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari pembalasan (hari kemudian). Kedua, hukum islam akhlakiyah, yakni hukum-hukum yang berhubungan dengan akhlak (budi pekerti), berupa keutamaan dan menjauhkannya dari kehinaan. Ketiga, hukum islam amaliyah, yakni kontrak (aqad) dan pembelanjaan. Hukum islam amaliyah ini terbagi atas dua cabang hukum, yakni hukum-hukum ibadah, seperti zakat, puasa, nazar dan sebagainya yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya; dan hukum-hukum muamalah, seperti, jinayat, hukuman dan sebagainya, yang mengatur hubungan perseorangan, kelompok maupun antar bangsa.

Al-Quran hanya memberikan dasar atau patokan yang umum untuk membimbing mmanusia ke arah kesempurnaan hidup yang selaras antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat; antara lahir dan batin; antara individu dengan masyarakat bahkan antara manusia dengan alam sekitarnya. Oleh karena itu, Al-quran dalam kaitannya dengan pembinaan hukum islam, mempunyai beberapa ciri, yaitu :
1. Ayat-ayat Al-quran tidak membicarakan suatu persoalan sedetil-detilnya, tetapi cenderung memberikan kerangka yang sifatnya umum. Dari sini dapat dipahami, bahwa Al-Quran sebagai petunjuk yang sifatnya universal dapat diterima oleh semua umat, dimanapun dan kapanpun tanpa harus terikat oleh temapat dan ruang tertentu. Untuk menyesuaikan ayat-ayat Al-Quran tersebut dengan tempat dan waktu tertentu tersebut, inilah yang kemudian menjadi tugas dan tanggung jawab para ahli hukum islam dapat diterapkan secara sepatutnya sesuai dengan kondisi di tempatnya masing-masing. contoh dalam hal ini adalah prinsip musyawarah yang terkandung dalam Al-Quran.

2. Ayat-ayat yang menunjukkan adanya kewajiban bagi manusia tidak bersifat memberatkan. Dari ciri ini dapat dipahami bahwa semua perintah dalam Al-Quran pasti dapat dilaksanakan, karena Allah sebagai Pencipta manusia Maha mengetahui akan kemampuan dan kesanggupan manusia. Kalaupun kemudian perintah tersebut tidak dapat dilaksanakan karena adanya sebab-sebab khusus, maka islam memberikan jalan keluarnya dengan adanya keringanan-keringanan berupa hukum islam rukhsyah.

3. Dalam bidang ibadah semuanya dilarang kecuali diperintahkan, sedangkan dalam bidang muamalah semuanya diperbolehkan kecuali ada larangan. Kaidah ibadah sebagai norma yang mengatur manusia berhubungan berhubungan dengan Tuhan tidak boleh ditambah atau dikurangi. Hal ini dikarenakan tata cara beribadah sifatnya tetap, tidak boleh berubah-ubah. Ketentuannya telah ditetapkan secara pasti oleh Allah sendiri, yang kemudian diperjelas atau dirinci oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu di bidang ibadah ini, tidak mungkin kemudian dilakukan pembaharuan, meskipun terjadi perkembangan zaman, karena kaidah, cara dan tata cara beribadah telah diperintahkan oleh Allah SWT dan pelaksanaannya telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan di bidang Muamalah, yang mengatur hubungan antara manusia dalam kehidupan masyarakat, sifat ketetapan Allah terbatas pada hal-hal yang pokok saja. Kalaupun kemudian dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW, tidak terinci seperti dibidang ibadah. Oleh karena itu sifatnya terbuka, sehingga dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan masa dan tempat tertentu. Dengan dasar seperti ini, Al-Quran memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya, sehingga hidup dan kehidupannya senantiasa berada dibawah naungan ajaran hukum islam, dan karena itu pula manusia tidak merasa berada dalam ikatan hukum islam yang penuh dengan larangan, ktakutan dan kekakuan, tetapi berada dalam kebebasan yang bertanggung jawab dalam bidang muamalah.

4. Dasar penetapan hukumnya tidak boleh bersandarkan prasangka semata. Dalam menghadapi semua persoalan, utamanya dalam menetapkan suatu hukum, Al-Quran telah menentukan agar umat islam tidak menetapkannya melalui prasangka atau mengada-ada. Islam memerintahkan agar dalam menetapkan suatu hukum agar memperhatikannya secara riil dan konkrit serta dengan dasar pengetahuan. Hal ini sebagaimana terkandung dalam Al-Quran surah An-Najm ayat 20, yang artinya berbunyi : "Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangkaan, sedang sesungguhnya prasangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran". Begitu pula Nabi Muhammad SAW telah memberikan patokan dasar dalam penentuan hukum islam, sebagaimana dalam hadisnya, yang artinya berbunyi : "sesungguhnya Allah telah menetapkan beberapa ketentuan bagimu, karena itu janganlah kamu sempitkan, dan ia telah menetapkan batas-batasannya, karena itu janganlah kamu langgar; dan Ia telah melarang beberapa hal, karena itu jangan kamu terjerumus di dalamnya dan Ia telah mendiamkan diri dalam beberapa hal, sebagai rahmat kepadamu, karena itu janganlah kamu memperbincangkannya

5. Ayat-ayat yang berhubungan dengan penetapan hukum islam, tidak pernah meninggalkan masyarakat sebagai bahan pertimbangan. Ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan secara bertahap sesuai dengan peristiwa yang terjadi dalam masyarakt arab pada saat itu,  sesungguhnya dimaksudkan agar masyarakat dapat menerimanya dengan segala kesadaran dan keikhlasan. Apalagi terhadap perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat pada saat itu, misalnya kebiasaan minum Khamar, tidak serta merta melarangnya sebagai perbuatan yang dilarang pada saat itu. Ayat Al-Quran pertama kali dalam melarang perbuatan tersebut adalah bahwa minum minuman keras (khamar) mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya. Kemudian setelah itu, Al-Quran melarang orang-orang beriman untuk shalat, sedang ia dalam keadaan mabuk (Q.S.An-Nisa ayat 43). Tahapan selanjutnya barulah Al-Quran menegaskan bahwa minuman khamar adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan (Q.S.Al-Maaidah ayat 90). Penentuan larangan minuman khamar ini secara berangsur-angsur sesungguhnya dimaksudkan untuk mempersiapkan kondisi lahir dan batin masyarakt arab pada saat itu.

6. Penetapan hukum islam yang bersifat perubahan, tidak mempunyai daya surut berlakunya. Sebelum Islam datang banyak perbuatan masyarakat arab yang bertentangan dengan hukum islam, antara lain misalnya anak laki-laki yang menikahi perempuan yang pernah dinikahi bapaknya. Mereka yang telah melakukan pernikahan seperti ini setelah islam datang, tidak boleh kemudian dihukum sebagaimana setelah turunnya ayat yang melarang perbuatan tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surah An-Nisa ayat 22, yang artinya berbunyi : "janganlah kamu menikahi perempuan yang sudah dinikahi bapakmu, kecuali yang sudah lalu".


Prinsip penetapan hukum yang bersifat perubahan yang tidak mempunyai daya surut berlakunya ini sangat penting demi menjamin adanya kepastian hukum dalam hukum islam.Mengenai substansi hukum islam yang diatur dalam Al-Quran adalah :
1. Ayat hukum islam yang mengatur masalah i'tiqadiyah (keyakinan dan keimanan).
2. Ayat hukum islam mengenai khuluqy, pola perilaku manusia yaitu berakhlak mulia.
3. Ayat hukum islam mengenai amaly, yang berkaitan dengan perbuatan manusia baik ibadah maupun muamalah


Demikianlah pembahasan mengenai Al-quran sebagai sumber hukum islam, semoga tulisan saya mengenai Al-quran sebagai sumber hukum islam dapat bermanfaat.

Sumber: Buku dalam penulisan Al-quran sebagai sumber hukum islam:

- M.Arifin Hamid, (2011). HUKUM ISlAM Perspektif Keindonesiaan (Sebuah Pengantar dalam Memahami Realitasnya di Indonesia).PT.UMITOHA GRAFIKA : Makassar.
Sumber Hukum Islam Ashliyah
Gambar Sumber Hukum Islam Ashliyah

Labels: