Kompilasi Hukum islam dan fiqih Mawaris

Kompilasi Hukum islam dan fiqih Mawaris

Hukum Sumber Hukum

Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai kompilasi hukum islam dan fiqih mawaris.

Kompilasi hukum islam kalau dibandingkan mengenai Hukum waris islam dengan kitab Fiqhul Mawaris karangan Prof. T. M. Hasbi Ash Shiddieqy, misalnya, maka yang tercantum dalam buku II Kompilasi hukum islam, hanyalah yang penting-penting saja, berupa pokok-pokoknya saja. Ini disebabkan karena garis-garis hukum yang dihimpun dalam 'dokumentasi yustisia' yang disebut kompilasi hukum islam itu hanyalah pedoman dalam menyelesaikan perkara-perkara di bidang hukum perkawinan, kewarisan dan perwakafan. Pengembangannya diserahkan pada hakim (agama) yang wajib memperhatikan dengan sunguh-sungguh nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakt, sehingga putusannya sesuai dengan rasa keadilan, seperti yang diharapkan oleh pasal penutup (299) kompilasi.

Kendatipun demikian, beberapa catatan berikut perlu dikemukakan. Pertama, karena garis-garis hukum mengenai hukum waris islam telah ditentukan dalam Al-quran, maka rumusan kompilasi mengikuti saja garis rumusan yang terdapat dalam Al-quran. Mengenai ini tidak ada perbedaan antara Kompilasi hukum islam dengan fiqhul mawaris. Sementara itu perlu dicatat bahwa kendatipun semangat perumusan kompilasi mengarah ke sistem bilateral, namun modifikasi dalam masalah kewarisan ini, dibandingkan dengan fiqhul mawaris, tampaknya dilakukan secara hati-hati.

Kedua, kedudukan anak angkat tetap diletakkan di ahli waris, sama yang terdapat dalam fiqh mawaris selama ini, namun dengan mengadaptasi nilai hukum adat secara terbatas ke dalam nilai hukum islam karena beralihnya tanggungjawab orang tua asal kepada orang tua angkat mengenai pemeliharaan kehidupan sehari-hari dan biaya pendidikan berdasarkan putusan pengadilan, seperti yang disebutkan dalam huruf h, pasal 171 di ketentuan umum, maka "terhadap anak angakat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya sepertiga harta warisan orang tua angkatnya". Demikian disebutkan dalam pasal 209 ayat (2) Kompilasi hukum islam. Dalam fiqih mawaris selama ini, lembaga wasiat wajibah itu diperuntukkan bagi cucu yang orang tuanya telah meninggal lebih dahulu dari pewaris, yang dalam kompilasi hukum islam ditampung oleh lembaga ahli waris pengganti.

Ketiga, tentang warisan yang diperoleh anak yang belum dewasa dan karena itu belum atau tidak mampu mengurus hartanya sendiri, berbeda dengan fiqih mawaris, kompilasi hukum islam mengatur soal itu secara rinci yang tertuang dalam beberapa pasal, misalnya pasal 184 yang menyatakan bahwa untuk menjamin terpeliharanya harta warisan anak yang belum dewasa, diangkat wali berdasarkan keputusan hakim.

Menurut Buku I Pasal 107 'perwalian' mengenai diri dan harta kekayaan anak berlangsung sampai anak itu berumur 21 tahun. walinya sedapat mungkin dari keluarga anak bersangkutan. Wali dalam hukum waris islam bertanggungjawab terhadap harta (anak) yang berada di bawah perwaliannya, dilarang mengikat, membebani dan mengaingkan harta anak yang berada di bawah perwaliannya yang dipercayakan kepadanya dengan pembukuan, sebagai bukti yang ditutup setiap akhir tahun.

Demikianlah beberapa hal yang perlu dikemukakan berkenaan dengan kompilasi hukum islam dan fiqih mawaris (fiqhul mawaris), semoga tulisan saya mengenai kompilasi hukum islam dapat bermanfaat.

Buku Hukum Islam yang dipakai dalam penulisan ini :

- Muhammad Daud Ali, (2004). Hukum islam. PT.RAJA GRAFINDO PERSADA : Jakarta.
Kompilasi Hukum Islam
Gambar Kompilasi Hukum Islam

Labels: